Yusuf Rahadian

Dedikasi Tanpa Batas untuk Kelestarian Lingkungan

Di tengah urgensi krisis iklim global dan tuntutan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, kehadiran para pakar yang mampu menjembatani disiplin ilmu teknis dengan kebijakan strategis menjadi sangat krusial. Salah satu tokoh Indonesia yang memiliki rekam jejak mendalam di bidang ini adalah Yusuf Rahadian. Yusuf merupakan seorang profesional, pakar manajemen hutan, serta spesialis dalam bidang Penginderaan Jauh atau Remote Sensing (RS) dan Sistem Informasi Geografis (SIG/GIS). Dengan kombinasi keahlian teknis yang kuat, pemahaman mendalam tentang lanskap kebijakan lingkungan di tingkat nasional dan internasional, serta pengalaman lebih dari satu dekade, Yusuf telah memantapkan posisinya sebagai figur penting dalam agenda pelestarian alam dan pengembangan aset karbon global.

Dedikasi Yusuf di bidang kehutanan dan pengelolaan sumber daya alam berakar kuat dari latar belakang pendidikannya di Institut Pertanian Bogor (IPB), sebuah institusi yang dikenal melahirkan banyak pemikir besar di sektor agraris dan kehutanan. Yusuf memulai perjalanan akademiknya di Fakultas Kehutanan IPB untuk jenjang Sarjana (Bachelor's degree) pada tahun 2000 hingga 2005. Selama masa kuliahnya, ia memfokuskan studinya pada bidang Manajemen Hutan dan Manajemen Sumber Daya Hutan, dengan spesialisasi yang mengarah pada analisis rantai nilai (value chain) serta pemodelan kehutanan.

Tidak berhenti di sana, demi memperdalam integrasi antara ilmu kehutanan dan kemajuan teknologi modern, Yusuf melanjutkan studinya ke jenjang Magister (Master of Science) di kampus yang sama pada tahun 2009 hingga 2013. Di tingkat pascasarjana ini, ia mengambil program studi Teknologi Informasi untuk Manajemen Sumber Daya Alam (Information Technology for Natural Resources Management). Fokus studinya bergeser secara spesifik pada penguasaan teknologi penginderaan jauh (remote sensing), Sistem Informasi Geografis (GIS), serta pemodelan hidrologi (hydrological modelling). Pendidikan formal yang kokoh inilah yang membentuk pemikiran analitis sekaligus membekali dirinya dengan kemampuan teknis tingkat tinggi.

Selaras dengan bekal ilmu yang diperolehnya dari IPB, Yusuf Rahadian kemudian meniti karier sebagai konsultan independen selama lebih dari 10 tahun. Peran ini membawanya masuk ke dalam lingkaran strategis penanganan isu-isu kehutanan, manajemen sumber daya alam, dan perumusan kebijakan terkait. Dedikasinya diakui secara luas oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari institusi pemerintah, lembaga riset, organisasi non-pemerintah (NGO), hingga sektor swasta. Melalui portofolio kerja yang luas ini, Yusuf berhasil membangun pemahaman yang sangat komprehensif mengenai isu lingkungan dari berbagai sudut pandang yang berbeda, khususnya dalam konteks dinamika di Indonesia. Pengalaman panjang ini pula yang berhasil memperluas jejaring profesionalnya di antara para pembuat kebijakan dan pelaku industri hijau.

Jauh sebelum menangani proyek skala global, langkah awal karier Yusuf dimulai dari tingkat tapak dan analisis lokal. Pada bulan Juli hingga Desember 2005, ia memberikan dukungan teknis sebagai GIS Technical Support untuk Kementerian Kehutanan (sekarang KLHK) dalam studi pola pemanfaatan lahan untuk mengendalikan banjir di Sungai Ciliwung, dengan studi kasus di Bogor, Jawa Barat. Tugasnya kala itu meliputi pengumpulan data lapangan, digitalisasi data, dan penyusunan laporan. Tak lama setelah itu, pada periode Januari hingga April 2006, ia bergabung dengan proyek USAID sebagai Tree Nursery & Tree Stand Establishment Specialist. Di sini, Yusuf berfokus pada program manajemen daerah aliran sungai (DAS) melalui pendekatan pengembangan masyarakat (community development). Ia memfasilitasi dan mengedukasi warga lokal untuk meningkatkan laju penanaman pohon demi berkontribusi langsung pada pengurangan emisi gas rumah kaca.

Kompetensi Yusuf yang semakin matang membuatnya dipercaya oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) untuk terlibat dalam berbagai studi kebijakan makro secara berkala. Keterlibatannya dengan BAPPENAS tercatat dalam empat proyek strategis yang berbeda:

 Juli 2008: Sebagai Forest Management Expert, ia menyusun studi tentang Pengembangan Strategis Jasa Lingkungan Hutan. Yusuf bertugas mengumpulkan dan menganalisis data serta menulis laporan rekomendasi kebijakan mengenai potensi, kondisi eksisting, dan regulasi jasa lingkungan, dengan mengambil studi kasus di Taman Nasional Gunung Rinjani (Lombok, NTB) dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat).

 Mei – Desember 2009: Ia kembali ditunjuk sebagai konsultan ahli untuk melakukan studi perhitungan nilai ekonomi hutan bekas rehabilitasi dan lahan non-hutan. Melalui pengumpulan data dan analisis valuasi hutan di Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Selatan, Yusuf menyusun rekomendasi kebijakan yang krusial bagi pemerintah.

 Juni – Des 2010: Yusuf mengemban tanggung jawab untuk melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap implementasi dan distribusi Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2009 bidang kehutanan, dengan studi kasus di Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

 Mei – Desember 2013: Ia berkontribusi dalam penyusunan dokumen perencanaan negara melalui Studi Strategi dan Arah Pembangunan Kehutanan Indonesia 2015-2019. Laporan analisis kebijakan dan rekomendasi yang dibuatnya menjadi salah satu pedoman penting dalam menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM N) bidang kehutanan.

Di samping kerja samanya dengan pemerintah, Yusuf juga aktif memperkuat analisis spasial di sektor non-pemerintah. Pada April 2012 hingga Maret 2013, ia bekerja sebagai GIS & Mapping Expert untuk Aidenvironment. Dalam proyek ini, ia memegang peran penting dalam upaya mencegah pelepasan jutaan hektar lahan hutan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Melalui pengumpulan dan analisis data geospasial primer dan sekunder, Yusuf memproduksi peta tematik (tata guna lahan, tutupan hutan, dan topografi), mengelola sistem basis data, serta menyusun strategi penguatan kapasitas institusional bagi pemangku kepentingan lokal dalam rencana tata ruang wilayah.

Seiring meluasnya rekam jejak yang dimiliki, Yusuf Rahadian mulai merambah organisasi internasional terkemuka. Pada Mei 2014 hingga Maret 2016, ia bergabung dengan United Nations Development Programme (UNDP) sebagai GIS Associate. Selama hampir dua tahun, Yusuf memberikan dukungan teknis pada aliran kerja Pengukuran/Pemantauan, Pelaporan, dan Verifikasi (MRV) serta aliran kerja Provinsi Percontohan, dengan fokus khusus pada kebutuhan geospasial di wilayah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jambi, dan provinsi prioritas lainnya. Ia juga ikut menyokong Program Pemetaan Partisipatif Masyarakat serta memastikan efektivitas pelaporan implementasi proyek dan kemitraan strategis.

Langkah profesionalnya berlanjut ke Indonesian Palm Oil Pledge (IPOP) sebagai Program Officer - Technology & System Development dari Maret hingga Oktober 2016. Di institusi ini, Yusuf bertugas memperkuat kapasitas manajemen IPOP dalam mengimplementasikan komitmen transformasi sektor kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia, khususnya di provinsi Aceh, Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatera Selatan. Yusuf memimpin pengembangan dan pengelolaan Sistem Monitoring IPOP, termasuk Sistem Pemantauan KPI Manajemen dan Sistem Pemantauan Lahan terhadap deforestasi, pembangunan di lahan gambut, nilai konservasi tinggi (HCV), stok karbon tinggi (HCS), titik api (hotspot), kebakaran hutan, serta proyeksi pengurangan emisi GRK. Ia juga menganalisis data untuk pelaporan internal-eksternal, serta memimpin upaya pendekatan dan pendampingan pemanfaatan sistem tersebut kepada para pemangku kepentingan dari tingkat provinsi hingga tingkat desa.

Selanjutnya, dari September 2016 hingga Agustus 2018, Yusuf mendedikasikan keahliannya di Belantara Foundation sebagai GIS & Spatial Planning Specialist. Selama dua tahun penuh, ia mengoordinasikan dan mendukung pengembangan sistem informasi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada komponen GIS, serta mengembangkan alat bantu pengambilan keputusan (decision support tools) dan pendekatan pemodelan. Aktivitasnya mencakup formulasi proposal kegiatan, rencana kerja, prosedur pelaporan, hingga koordinasi antarkonsultan dan tim kerja. Yusuf juga merancang sistem pusat informasi spasial (spatial information hub), mengelola rutinitas pemutakhiran data spasial, mendesain alat diseminasi seperti atlas daring, serta mengintegrasikan data spasial ke dalam platform web sebagai portal indikator interaktif. Selain itu, ia bertanggung jawab meningkatkan kapasitas lanskap lokal dalam pemanfaatan GIS dan melaporkan capaian program dalam berbagai forum nasional maupun internasional.

Kematangan Yusuf dalam isu kehutanan dan teknologi spasial membawanya masuk ke industri pasar karbon yang sedang berkembang pesat. Pada Desember 2019, ia direkrut oleh South Pole, sebuah perusahaan global terkemuka di bidang proyek pengurangan emisi dan solusi iklim. Yusuf mengawali perannya di South Pole sebagai Project Manager, Forestry and Land Use hingga Januari 2021. Dalam posisi ini, ia bertanggung jawab penuh atas pencapaian target proyek penggunaan lahan, mengawasi tim, serta menyusun studi kelayakan dan Dokumen Desain Proyek (Project Design Document / PDD). Ia juga mendukung validasi, pemantauan, pelaporan, dan verifikasi di bawah berbagai standar skema karbon lokal maupun internasional seperti T-VER, CDM, VERRA, GS4GG, dan ICONTEC. Yusuf mengelola manajemen proyek secara menyeluruh, mulai dari alur kas, kualitas keluaran kerja, tinjauan teknis (Technical Reviews), kontrol kualitas (Quality Checks), hingga riset kemitraan baru.

Berkat kinerjanya yang gemilang, ia dipromosikan menjadi Senior Project Coordinator di South Pole untuk wilayah Jakarta Raya dari Januari 2021 hingga Mei 2022. Selama satu setengah tahun berikutnya, ia terus memperkuat hubungan dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal, mengoordinasikan kunjungan lapangan, serta memastikan seluruh proyek pengurangan emisi berjalan sesuai dengan anggaran waktu dan finansial yang ditetapkan.

Karier internasional Yusuf mencapai babak baru ketika ia memutuskan untuk melebarkan sayap ke Singapura. Pada Mei 2022, ia bergabung dengan New Forests, sebuah perusahaan manajemen investasi aset riil global yang berfokus pada transisi berkelanjutan di sektor perhutanan dan tata guna lahan. Yusuf langsung dipercaya memegang posisi posisi strategis sebagai Manager sejak Mei 2022, dan kemudian merangkap serta memperkuat perannya sebagai Carbon Manager, Asia & Africa sejak Agustus 2024 hingga saat ini.

Di New Forests, Yusuf memikul tanggung jawab besar berskala multinasional. Ia mendukung jajaran eksekutif (Executive Committee / ExCo) New Forests dalam memahami kebutuhan sumber daya masa depan terkait pengembangan aset karbon, pelaporan, advokasi metodologi, dan ruang perdagangan karbon. Secara khusus, ia membangun pemahaman mendalam tentang protokol pasar karbon sukarela (Voluntary Carbon Market / VCM) yang relevan dengan dana kelolaan New Forests, terutama yang berfokus pada TAFF2 (Tropical Asia Forest Fund 2) dan AFIP (African Forestry Impact Platform).

Kiprahnya di New Forests meliputi:

 Terlibat aktif dalam pasar karbon sukarela yang ada untuk memfasilitasi pemahaman yang lebih luas tentang peluang pasar, sekaligus memperkuat posisi New Forests sebagai pemasok utama untuk kompensasi karbon kehutanan (forestry carbon offsets) dan produk karbon lainnya.

 Bekerja sama dengan tim investasi NF Asia Investments untuk mengidentifikasi dan menyempurnakan potensi karbon pada aset-aset yang masuk dalam jalur pipa investasi (pipeline assets), serta mengoordinasikan upaya uji tuntas (due diligence) dan studi kelayakan potensi karbon aset tersebut.

 Mengoordinasikan tim operasional untuk mengidentifikasi dan mengembangkan peluang aset karbon di pasar sukarela di seluruh platform investasi New Forests, dengan fokus utama pada TAFF2 dan AFIP.

 Berkontribusi dalam pembuatan permintaan proposal (RFP) dan seleksi konsultan eksternal untuk mendukung pekerjaan karbon, serta mengelola konsultan yang terpilih dan berkoordinasi dengan perusahaan portofolio mengenai desain dan pengembangan proyek.

 Memastikan kepatuhan terhadap persyaratan operasional dan terlibat langsung dalam audit validasi serta verifikasi yang sedang berjalan demi penerbitan kompensasi karbon (carbon offsets).

 Mengoordinasikan analisis kesenjangan (gap analysis) terhadap sistem yang sudah ada, serta bekerja sama dengan tim Investment Analytics untuk mengidentifikasi solusi alternatif bagi pengembangan alat baru (new tool development) di ruang karbon.

Keberhasilan perjalanan karier Yusuf Rahadian disokong oleh daftar keahlian yang sangat komprehensif. Di ranah strategis dan konseptual, ia menguasai Carbon Project Development, Pasar Karbon Sukarela (Voluntary Carbon Market / VCM), Manajemen Sumber Daya Alam (Natural Resource Management), Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development), Ekologi, Perubahan Iklim (Climate Change), Kebijakan Lingkungan (Environmental Policy), Isu-Isu Konservasi, Penilaian Dampak Lingkungan (EIA), Biodiversitas, Keberlanjutan (Sustainability), Jasa Ekosistem (Ecosystem Services), Kesadaran Lingkungan, serta Manajemen Hutan dan Kehutanan secara makro.

Sementara di sisi teknis instrumentasi, Yusuf memiliki kemampuan eksekusi yang tajam dalam bidang Analisis Spasial, Sistem Informasi Geografis (GIS), dan Penginderaan Jauh (Remote Sensing). Ia sangat mahir dalam mengoperasikan perangkat lunak industri standar seperti ArcGIS, ArcMap, dan ENVI, yang dikombinasikannya dengan kemampuan Analisis Data (Data Analysis) yang kuat.

Melalui integrasi yang solid antara ilmu pengetahuan kehutanan, kecakapan teknologi spasial, dan kepemimpinan visioner dalam mekanisme pasar karbon internasional, Yusuf Rahadian terus memberikan kontribusi nyata. Ia tidak hanya mengharumkan nama almamaternya, IPB, tetapi juga menjadi salah satu representasi profesional Indonesia yang berada di garda terdepan dalam upaya global menjaga kelestarian bumi demi generasi masa depan.

Tinggalkan Komentar