Suara dari Pesisir untuk Indonesia
Laut dan pesisir bukan hanya bentang alam, tetapi juga sumber kehidupan dan masa depan. Pandangan itulah yang konsisten dipegang oleh Prof. Dr. Yonvitner, S.Pi., M.Si., seorang pakar pengelolaan sumber daya pesisir dan lautan yang saat ini menjabat sebagai Direktur Centre for Coastal and Marine Resources Studies (CCMRS) di IPB University sekaligus Presiden Pemsea Network Learning Centre (PNLC).
Dengan lebih dari dua dekade pengalaman, sosok ini menjadi figur sentral dalam pembangunan berbasis kelautan yang berkelanjutan, tak hanya di Indonesia namun juga di kancah internasional.
Perjalanan akademik Yonvitner dimulai dari SMA Negeri 1 Luhak, 50 Kota, yang membawanya melanjutkan studi di IPB University pada tahun 1994. Dari bangku kuliah inilah ketertarikannya terhadap sumber daya kelautan tumbuh dan menguat.
Kiprah akademik dan penelitiannya membawanya menjadi Guru Besar Tetap di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan FPIK IPB, sekaligus dosen di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan.
Sebagai Kepala Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL IPB), ia memimpin institusi yang berfokus pada pemahaman, pelestarian, dan pemanfaatan berkelanjutan kawasan pesisir dan laut.
PKSPL merupakan transformasi dari beberapa pusat studi yang sejak tahun 1988 hingga kini terus beradaptasi dengan tantangan zaman, termasuk perubahan iklim, kerusakan ekosistem, dan dinamika sosial-ekonomi pesisir.
Gagasan-gagasan Yonvitner banyak dituangkan dalam kolom opini di media nasional. Ia kerap diundang menjadi narasumber di seminar nasional hingga forum internasional, termasuk menjadi wajah keilmuan di berbagai stasiun televisi. Hal ini mencerminkan kedalaman wawasan dan kepekaannya terhadap isu-isu lingkungan pesisir.
Dalam orasi ilmiahnya saat pengukuhan sebagai Guru Besar pada Januari 2024, Yonvitner mengangkat tema “Pengelolaan Pesisir, Laut, dan Pulau-pulau Kecil Berbasis Risiko.” Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim adalah ancaman nyata dengan dampak multidimensi, dari banjir rob hingga penurunan muka tanah.
Risiko ini tak hanya merusak lingkungan, tapi juga membawa potensi kerugian ekonomi dalam skala besar. Estimasinya, kerusakan akibat perubahan iklim dan ekosistem bisa menelan biaya hingga Rp 4.328 triliun.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa kerusakan ekosistem pesisir memberikan dampak signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Misalnya, kerusakan mangrove dapat menimbulkan kerugian hingga Rp 3.217 triliun, sementara rusaknya terumbu karang dan padang lamun juga memicu dampak ekonomi besar yang tak bisa diabaikan.
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, 6,4 juta km² luas laut, dan panjang garis pantai mencapai 108 ribu km, memiliki kekayaan luar biasa yang mencakup potensi perikanan, mangrove, lamun, hingga terumbu karang.
Total potensi ekonomi dari kekayaan laut ini bahkan diperkirakan mencapai USD 3,1 triliun dan membuka hingga 45 juta lapangan kerja. Namun kekayaan ini juga membawa tantangan besar jika tidak dikelola dengan pendekatan risiko dan berbasis sains.
Menurut Yonvitner, risiko kawasan pesisir bukan hanya soal bencana alam, tapi juga mencakup sensitivitas lingkungan, kerentanan sosial, dan ketidaksiapan regulasi. Meski Indonesia sudah memiliki kerangka regulasi yang memadai, implementasinya masih perlu didorong secara sistematis dan konsisten agar pembangunan kawasan pesisir benar-benar berkelanjutan.
Kiprah Yonvitner menunjukkan bagaimana keilmuan bisa menyatu dengan pengabdian. Dengan landasan riset yang kuat, ia turut merumuskan strategi nasional dalam pengelolaan pesisir, ikut serta dalam pengembangan kebijakan seafood ecolabelling, dan aktif di berbagai gugus tugas pembangunan maritim. Peran strategisnya di PNLC juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pionir dalam jejaring pembelajaran pesisir dunia.
Melalui kerja-kerjanya, ia memperlihatkan bahwa menjaga laut bukan sekadar menjaga ekosistem, melainkan juga menjaga identitas, ketahanan pangan, ekonomi, dan masa depan bangsa.
Prof. Yonvitner adalah satu dari sedikit sosok yang terus menyuarakan pentingnya keberlanjutan, bukan hanya dalam teori, melainkan lewat aksi nyata dan kebijakan berbasis data. Sebuah inspirasi besar dari seorang alumni IPB yang setia pada panggilan laut.