Sri Ainin Muktirizka

Membumikan Nilai, Menginspirasi Perubahan

Ir. Sri Ainin Muktirizka, M.M., yang akrab disapa Rizka, lahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara dalam keluarga yang memegang teguh nilai kedisiplinan, kasih sayang, dan semangat hidup berlandaskan iman serta ilmu. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam suasana keluarga yang menanamkan nilai bahwa kecerdasan harus diimbangi dengan moral dan spiritualitas.

Ayahnya adalah seorang dokter sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia yang menjadi teladan dalam hal tanggung jawab dan dedikasi tanpa pamrih terhadap pasien. Dari sang ayah, Rizka belajar pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Ibunya, seorang ahli gizi yang aktif, mandiri, dan gemar berolahraga, mengajarkan arti ketekunan, kemandirian, serta kemampuan menjalin hubungan baik dengan banyak orang. Kedua sosok ini membentuk karakter Rizka menjadi pribadi tangguh, disiplin, dan berorientasi nilai.

Sejak kecil, kesehariannya diisi dengan aktivitas yang menumbuhkan kedisiplinan dan ketangguhan. Setiap minggu pagi ia rutin mengikuti latihan atletik dan bela diri yang membentuk semangat kompetitif dan daya juangnya. Di sisi lain, Rizka menyalurkan bakat seni melalui musik dan bernyanyi dalam grup band sekolah. Ia juga selalu menyeimbangkan kegiatan duniawi dengan nilai spiritual, salah satunya kebiasaan belajar mengaji setiap malam sebelum melakukan aktivitas lain.

Orang tuanya menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah investasi terbaik dalam hidup. Dorongan itu menjadi pegangan yang membawanya melanjutkan pendidikan ke Institut Pertanian Bogor (IPB) setelah lulus dari SMA Negeri 6 Jakarta. Prinsip “iman, ilmu, dan amal” menjadi fondasi kehidupannya hingga kini.

Kini, bersama suami, dua anak, dan satu cucu, Rizka terus bertekad untuk hidup bermanfaat dan menginspirasi sesama. Ia meyakini bahwa hidup yang baik adalah hidup yang seimbang—antara berpikir dan berdoa, bekerja dan bersyukur, belajar dan berbuat. Baginya, pensiun bukan akhir, melainkan fase baru untuk terus belajar dan berbagi. Ia percaya manusia tak pernah benar-benar berhenti dari berbuat baik selama masih diberi napas dan kesempatan.

Rizka menempuh pendidikan tinggi di IPB dan meraih gelar Insinyur Teknologi Industri Pertanian pada tahun 1992. Di masa kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, di antaranya sebagai pengurus himpunan mahasiswa, Ketua Orientasi Mahasiswa Jurusan TIN, dan Ketua Malam Seni Fakultas Teknologi Pertanian (MALTA) tahun 1989.

Ketekunannya dalam dunia riset dan rasa ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan membawanya bekerja sama dengan para dosen ternama seperti Prof. Dr. Eriyatno dan Prof. Dr. Marimin. Melalui bimbingan keduanya, Rizka menulis karya ilmiah yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal Intelligent and Fuzzy System.

Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Rizka melanjutkan studi ke Universitas Indonesia dan memperoleh gelar Magister Manajemen Internasional (1996). Semangat belajarnya tidak berhenti di situ; pada tahun 2023 ia memulai program Doctor of Research in Management di Universitas Bina Nusantara dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2025.

Penelitiannya berfokus pada elderly well-being dan pemanfaatan teknologi, sebuah topik yang menggabungkan dimensi psikologi dan inovasi digital untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat lanjut usia. Melalui penelitian ini, Rizka berupaya menjembatani ilmu teknologi dan kemanusiaan agar memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan sosial.

Bagi Rizka, pendidikan bukan sekadar proses akademik, tetapi perjalanan spiritual dan intelektual untuk memahami manusia, organisasi, dan sistem yang saling terhubung. Setiap jenjang pendidikan memperluas pandangannya tentang kehidupan dan menjadi landasan dalam membangun kebijaksanaan sebagai profesional dan pemimpin.

Karier profesional Rizka dimulai pada tahun 1992 di Jaya Bank International sebagai Account Officer, tempat ia belajar tentang ketelitian dan tanggung jawab dalam menganalisis keuangan perusahaan. Tahun berikutnya, ia bergabung dengan PT Berdikari (Persero) dan bekerja di sana hingga tahun 2000.

Pengalaman di dunia keuangan membuka jalannya menuju bidang komunikasi dan kreativitas ketika ia menjabat sebagai Program Director di Cosmopolitan Media Indonesia. Dunia media memperkaya wawasannya tentang manajemen talenta dan strategi komunikasi.

Kemudian, ia bergabung dengan PMK Consulting dan PAL & Associate sebagai Business Associate Director, memperdalam keahliannya di bidang konsultasi manajemen SDM, mencakup pelatihan, asesmen, dan transformasi organisasi. Dari sinilah tumbuh minatnya yang mendalam terhadap pengembangan manusia dan organisasi.

Pada tahun 2012, Rizka dipercaya menjadi HR Director di The Body Shop Indonesia, tempat ia membangun sistem pengelolaan SDM yang berorientasi pada nilai kemanusiaan dan keberlanjutan. Tahun 2017–2021, ia menjabat sebagai HR Director Transcosmos (JV Japan & Salim Group) dan CHRO di iLOTTE (JV Korea & Salim Group), yang memberinya pengalaman mengelola SDM lintas budaya di lingkungan bisnis global.

Sejak April 2021, Rizka menjabat sebagai Direktur Sumber Daya Manusia dan Hukum di PT ASABRI (Persero). Di BUMN yang berorientasi pada layanan untuk prajurit TNI, Polri, dan ASN tersebut, ia mengintegrasikan strategi kepemimpinan yang humanis dengan prinsip efisiensi dan kinerja. Perannya sebagai salah satu sedikit perempuan di jajaran direksi BUMN menjadi inspirasi tersendiri bagi perempuan Indonesia untuk berani mengambil peran strategis di sektor yang identik dengan dunia militer.

Selain profesional di bidang SDM, Rizka memiliki jiwa seni dan kecintaan pada menulis. Bernyanyi menjadi salah satu bentuk ekspresi dirinya, sementara olahraga kasual menjaga keseimbangan pikiran dan fisiknya.

Pada tahun 2009, ia menerbitkan buku “Triple S”, yang berisi refleksi tentang semangat, strategi, dan sikap positif dalam menjalani kehidupan. Rizka juga aktif menulis artikel reflektif yang membahas nilai kemanusiaan dan kekuatan perempuan untuk tumbuh secara autentik. Ia bergabung dengan grup musik GLAZZ, wadah kreatif bertema kemanusiaan dan pemberdayaan perempuan, yang menggabungkan seni, narasi, dan pesan sosial.

Sebagai pemimpin, Rizka dikenal visioner, hangat, dan empatik. Ia kerap menjadi pembicara di berbagai forum profesional, khususnya di bidang human capital, kepemimpinan transformatif, dan budaya kerja organisasi. Ia juga aktif dalam HR Director Indonesia Association, komunitas para pemimpin SDM lintas industri.

Kinerja dan kontribusinya di dunia profesional diakui luas melalui berbagai penghargaan, di antaranya:

• Juara 3 Lomba Karya Tulis Nasional Mathias Aroef Award (1993);

• Best Company in Building Culture & Organizational Resilience (2022);

• East Humanitarian Award dari Rotary International;

• Penghargaan dan pengakuan dari beberapa lembaga HR nasional dan internasional atas kontribusinya dalam transformasi budaya dan kepemimpinan korporasi;

• Top 100 Powerful Woman Business Leaders versi SWA Media; dan

• Best Human Capital Director 2025 dari Indonesia Human Capital Awards.

Penghargaan-penghargaan tersebut menjadi bukti dedikasinya dalam membangun organisasi yang sehat, adaptif, dan berorientasi pada manusia.

Masa kuliah di IPB meninggalkan kesan mendalam bagi Rizka. Ia mengenang kampus pertanian tersebut sebagai ruang yang membuka cakrawala pengetahuan luas, terutama dalam bidang teknologi dan komputer. Menurutnya, IPB adalah tempat yang menanamkan semangat untuk terus belajar dan berinovasi tanpa batas.

Kehidupan di asrama IPB juga memberikan pengalaman berharga. Hidup bersama teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia memperkaya pemahamannya tentang keberagaman dan membentuk karakter sosial yang kuat. Persahabatan yang terjalin di masa itu berkembang menjadi jaringan profesional yang terus berlanjut hingga kini. Dari sinilah Rizka belajar pentingnya kolaborasi, empati, dan jejaring sosial yang saling mendukung.

Sebagai almamater yang melahirkan banyak pemimpin dan profesional di berbagai bidang, Rizka menilai bahwa IPB memiliki peran strategis dalam membangun bangsa. Ia memandang alumni IPB sebagai aset nasional yang berkarakter tangguh, memiliki fondasi keilmuan kuat, dan komitmen terhadap keberlanjutan.

Rizka berharap Himpunan Alumni IPB (HA-IPB) terus memperkuat perannya sebagai wadah kolaborasi lintas generasi dan sektor. Jejaring alumni, menurutnya, bukan sekadar ruang silaturahmi, tetapi juga sarana kerja sama konkret dalam riset, inovasi, dan pemberdayaan masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara IPB dan HA-IPB dalam menghadapi tantangan global seperti ketahanan pangan, energi, transformasi digital, serta pengembangan SDM yang adaptif.

Bagi Rizka, kesuksesan sejati tidak diukur dari jabatan atau penghargaan, melainkan dari seberapa besar nilai dan dampak positif yang dapat diberikan kepada orang lain. Ia percaya bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik mampu membawa perubahan besar.

“Menjadi diri kita saat ini adalah hasil rangkaian keputusan yang kita buat,” ujarnya. Pesan ini mencerminkan keyakinannya bahwa keberhasilan lahir dari kesadaran, keberanian mengambil keputusan, dan komitmen pada setiap konsekuensinya.

Dengan prinsip hidup yang menyeimbangkan iman, ilmu, dan tindakan nyata, Ir. Sri Ainin Muktirizka, M.M. adalah sosok pemimpin humanis yang memimpin dengan hati, berpikir dengan nalar, dan bertindak dengan nilai—teladan bagi generasi yang ingin hidup dengan makna dan memberi manfaat bagi sesama.

Tinggalkan Komentar