Rizal Ahmad Fauzi

Selalu Ada Arti dalam Setiap Kontribusi

"Yang penting adalah kita terus berbuat yang terbaik dan percayalah bahwa karya terbaik kita sekecil apapun akan dilihat orang." 

Rizal Ahmad Fauzi, adalah alumni Doktor Manajemen dan Bisnis angkatan ke-12 SB-IPB, kini menjabat sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko di Telkomsat. Perjalanan karirnya yang dinamis dan penuh tantangan menjadi inspirasi bagi banyak orang, menunjukkan bagaimana dedikasi dan kemauan untuk terus belajar dapat membawa seseorang meraih posisi puncak.

Dari Teknik Industri ke Dunia Telekomunikasi

Rizal mengawali pendidikannya di bidang Teknik Industri, dengan fokus pada optimasi sistem. Setelah lulus, ia memulai karirnya di Telkom Group, tepatnya di STT Telkom. Uniknya, posisi awal karirnya adalah sebagai Sales Engineer. 

"Saya benar-benar ngobeng begitu, benar teknik di jalan, narik kabel dan sebagainya saya ngalamin dan ke daerah-daerah," kenangnya dikutip dari YouTube SB IPB University.

Pengalaman langsung di lapangan ini memberinya pemahaman mendalam tentang operasional teknis, bahkan pernah diterjunkan ke daerah konflik seperti Dili dan Banda Aceh untuk memasang antena satelit.

Ketertarikannya pada investasi membawanya menempuh pendidikan S2. Setelah itu, ia sempat kembali ke dunia marketing di anak perusahaan Telkom, yang digelutinya selama lebih dari satu dekade. 

Titik balik besar terjadi ketika ia diminta bergabung dengan divisi keuangan. Meskipun awalnya merasa kurang percaya diri karena lama meninggalkan bidang tersebut, Rizal memutuskan untuk kembali sekolah di SB-IPB untuk memperdalam ilmunya. 

"Awalnya untuk pede aja sebetulnya, tapi ternyata menarik, banyak sekali hal yang bisa kita bisa temukan," ujarnya.

Sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Rizal bertanggung jawab atas empat unit besar: keuangan (termasuk akuntansi), human capital, billing dan collection, serta supply chain (pengadaan). 

Ia melihat perannya sebagai "rem" dan "dashboard" bagi perusahaan, yang memberikan masukan dan panduan untuk mempercepat bisnis dan mengelola risiko.

Telkomsat di Era Transformasi Digital: Kolaborasi dengan Starlink

Rizal menjelaskan bahwa dunia telekomunikasi adalah industri yang sangat dinamis dan penuh tantangan, terus mengikuti inovasi yang ada. Telkom, yang dulunya dikenal sebagai perusahaan telepon, kini telah bertransformasi menjadi "digital telco", sebuah perusahaan telekomunikasi yang berupaya menjadi perusahaan digital seutuhnya. 

Hal ini dilakukan untuk menghadapi disrupsi dari Over-The-Top (OTT) seperti WhatsApp dan Facebook, yang meskipun tidak memiliki infrastruktur, memiliki valuasi yang sangat tinggi.

Telkomsat sendiri berperan sebagai penyedia transmisi telekomunikasi melalui satelit. Rizal menyoroti keunggulan satelit, terutama dalam hal instalasi yang cepat di daerah-daerah terpencil atau sulit dijangkau. Saat ini, Telkomsat mengelola empat satelit: Telkom 3S, Merah Putih, dan yang terbaru Merah Putih 2, dan yang akan beroperasi Merah Putih 3.

Salah satu topik hangat yang dibahas adalah proyek Starlink. Rizal menjelaskan perbedaan Starlink (Low Earth Orbit/LEO) yang berjarak sekitar 500-600 km dari bumi, dengan satelit Geostationary Orbit (GSO) Telkomsat yang berada di 36.000 km. 

Keunggulan LEO adalah latensinya yang cepat, namun memerlukan jumlah satelit yang lebih banyak untuk cakupan yang luas. Telkomsat memilih untuk merangkul Starlink sebagai mitra, bukan kompetitor, untuk layanan backhole dan enterprise. 

"Kita tahu bahwa dia akan jadi disruptor yang paling besar jauh hari kita rangkul agar mau tidak mau bisa kita atur playing field-nya," jelas Rizal.

Telkomsat menjamin harga yang sama dengan Starlink untuk layanan sejenis, dengan nilai tambah berupa layanan instalasi, customer care, SLA, penggantian perangkat, dan yang terpenting, data governance dengan gateway di Indonesia. Rizal optimis bahwa satelit akan tetap tak tergantikan, terutama bagi negara maritim seperti Indonesia.

Kontribusi untuk Almamater dan Filosofi Hidup

Sebagai alumni dan juga dosen di SB-IPB, Rizal merasakan betul manfaat dari lingkungan kampus yang divergen dan colorful, memungkinkan dirinya belajar dari berbagai latar belakang industri dan pola pikir. Ia sering berbagi pengalaman, terutama terkait manajemen risiko dan teknologi digital. 

"Saya love to share karena pengalaman lebih dari 25 tahun di industri tentu saja perlu kita sharing ke teman-teman," katanya.

Dalam perjalanan karirnya, Rizal mengaku terinspirasi oleh orang tuanya yang berprofesi sebagai pendidik, menumbuhkan obsesinya untuk berbagi. Ia juga meyakini pentingnya coaching dan mentoring dari setiap orang yang ditemuinya.

Filosofi hidup yang ia pegang teguh berlandaskan pada nilai-nilai AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif) yang digagas BUMN. Ia menekankan pentingnya terus meningkatkan kompetensi, menjaga keharmonisan dengan lingkungan, serta memiliki loyalitas di tempat kerja. Ia juga menyoroti pentingnya sikap adaptif dan kemampuan bekerja sama dalam tim di tengah dunia yang terus berubah.

Ia menekankan pentingnya berkontribusi secara optimal, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk bangsa dan negara. 

"Setiap orang pasti punya brand, siapa yang menciptakan brand itu? Ya kita sendiri kan," tutupnya, mengingatkan pentingnya membangun citra diri yang positif melalui tindakan nyata.

Tinggalkan Komentar