Merawat Asa Melalui Perkebunan Indonesia
Pensiun dari kursi Direktur Utama Holding PT Perkebunan Nusantara III (Persero) sejak 16 Juni 2025 bukan menjadi titik akhir bagi Mohammad Abdul Ghani. Perjalanan panjangnya di industri perkebunan justru memasuki babak baru ketika ia menerima penugasan sebagai Director of Plantation & Agriculture di Danantara Indonesia. Penunjukan ini menjadi sinyal kuat bahwa pengalaman dan kepemimpinan Ghani tetap dibutuhkan dalam memperkuat fondasi agribisnis nasional.
Perjalanan karier Mohammad Abdul Ghani dimulai dari posisi Corporate Secretary di PTPN IV pada 2012–2015. Setelah itu, ia menapaki berbagai posisi strategis: Direktur Utama PTPN XIII (2016–2018), Direktur Utama PTPN VI (2018), Direktur Utama PTPN II (2019), hingga Wakil Direktur Utama PTPN III (2019–2020). Lompatan penting terjadi pada 12 Februari 2020, ketika ia dipercaya memimpin Holding PTPN III (Persero) sebagai Direktur Utama.
Selama masa kepemimpinannya, PTPN Group mengalami lompatan besar. Pendekatan berbasis subholding komoditas seperti PalmCo, SugarCo, dan SupportingCo berhasil meningkatkan efisiensi serta nilai tambah pada setiap lini bisnis. Langkah-langkah strategis seperti digitalisasi proses, optimalisasi rantai pasok, hingga restrukturisasi aset menjadi kunci dari pengembangan menyeluruh tersebut.
Dikutip dari professionalreview.org, performa PTPN Group selama kepemimpinannya layak mendapat sorotan. Pendapatan konsolidasi hingga April 2025 tercatat mencapai Rp16,48 triliun (102% dari target RKAP), tumbuh 20,5% year-on-year. Laba bersih melonjak drastis menjadi Rp1,23 triliun, atau setara 301,4% dari target dan naik lebih dari 3.000% dibanding tahun sebelumnya. Bahkan EBITDA tercatat Rp4,09 triliun, lebih dari tiga kali lipat dari estimasi awal.
Aset dan ekuitas perusahaan pun menunjukkan penguatan. Total aset mencapai Rp146,6 triliun, sedangkan ekuitas meningkat menjadi Rp75,61 triliun. Yang menarik, posisi saldo laba yang sebelumnya negatif Rp15,19 triliun pada 2020, kini mendekati titik impas, tersisa minus Rp1,5 triliun.
Rekam jejak Ghani diakui berbagai pihak. Ia meraih gelar Best CEO in Palm Oil Industry 2024 dari ajang 3rd Sawit Indonesia Award serta beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai Best CEO versi The Iconomics. Reputasinya sebagai pemimpin visioner dan transformatif menjadikannya figur sentral dalam ekosistem industri sawit Indonesia.
Lulusan IPB University jurusan Ekonomi Pertanian (1980–1984) ini melengkapi pendidikannya dengan gelar Master of Science dari Universitas Gadjah Mada (2007–2009), dan Doctor of Philosophy dari Universitas Sumatera Utara (2009–2015), dengan fokus pada perencanaan kota, komunitas, dan wilayah. Kombinasi pendidikan dan pengalaman lapangan menjadikannya pemimpin agribisnis yang memahami aspek teknis dan sosial secara menyeluruh.
Kehadiran Ghani di Danantara Indonesia memperkuat arah strategis perusahaan yang tengah bertumbuh. Dengan latar belakang kuat di sektor perkebunan dan rekam jejak dalam membenahi struktur industri, ia diprediksi membawa pendekatan integratif dan berbasis data dalam pengembangan agribisnis yang lebih kokoh, khususnya pada sektor-sektor strategis yang mendukung ketahanan pangan nasional.